Kalau kamu pelaku usaha kuliner atau ibu rumah tangga yang suka belanja di pasar, pasti pernah bertanya-tanya: “Kenapa harga ayam tiba‑tiba naik tinggi, terus tiba‑tiba turun lagi?”
Fenomena fluktuasi harga ini bukan cuma bikin repot konsumen, tapi juga bikin peternak dan supplier pusing mikirin stok dan margin. Biar kamu nggak bingung lagi, yuk kita bahas kenapa harga ayam bisa naik-turun, dan gimana cara menghadapinya bisa tetap untung dan stabil!
Penyebab Harga Ayam Naik Turun :
1. Pasokan & Permintaan: Hukum Ekonomi Dasar
Semakin banyak stok, harga turun. Semakin langka, harga naik.
Contohnya, saat panen ayam raya, jumlah ayam siap potong melimpah. Karena stok banyak, harga otomatis turun. Tapi sebaliknya, kalau banyak permintaan (seperti saat Ramadan, Lebaran, atau tahun baru) sementara ayam belum siap panen, harga bisa melonjak karena rebutan stok.
Tips: Cek tren permintaan musiman. Biasanya naik menjelang hari besar & akhir pekan.
2. Harga Pakan Ternak Naik = Biaya Produksi Ikut Naik
Pakan ayam seperti jagung dan kedelai menyumbang 70–80% dari biaya produksi ayam.
Kalau harga pakan naik, misalnya karena cuaca buruk, gagal panen, atau harga impor naik, peternak pun harus menyesuaikan harga jual ayam agar tidak rugi. Inilah yang bikin harga ayam di pasaran ikut naik.
Tips: Supplier profesional biasanya punya stok cadangan yang cukup untuk menjaga kestabilan harga saat kondisi pakan naik.
3. DOC (Day-Old Chick) Sedikit atau Terlalu Banyak
DOC = anak ayam umur sehari yang nantinya diternakkan.
Kalau jumlah DOC terlalu sedikit karena keterbatasan bibit, beberapa minggu kemudian pasokan ayam potong akan menipis → harga naik.
Tapi kalau banyak peternak tebar DOC dalam waktu bersamaan, ayam siap potong panen bersamaan → pasokan melimpah → harga bisa jatuh.
Tips: Tanyakan ke supplier apakah mereka punya jadwal produksi yang stabil.
4. Kebijakan Pemerintah & Regulasi
Misalnya:
- Pembatasan impor pakan
- Aturan distribusi DOC
- Perubahan pajak usaha ternak
Kebijakan seperti ini bisa bikin biaya produksi naik atau suplai terganggu → efeknya langsung ke harga ayam di pasar.
Tips: Ikuti perkembangan berita pertanian/pangan dari sumber resmi seperti Kementerian Pertanian atau Satgas Pangan.
5. Kondisi Ekonomi & Daya Beli Masyarakat
Saat ekonomi lesu (contohnya habis Lebaran, banyak orang ngencengin pengeluaran), daya beli menurun → ayam nggak laku → harga diturunin.
Tapi saat ekonomi stabil (misalnya awal bulan gajian, THR cair), banyak orang belanja makanan → harga bisa naik lagi.
Tips: Pelaku FnB bisa siasati dengan menu mix and match — campurkan ayam dengan bahan lain yang lebih murah untuk menjaga margin.
Strategi Biar Nggak Terganggu Fluktuasi Harga
1. Pantau Tren Harga Pasar
Cek harga dari berbagai sumber: pasar tradisional, distributor, platform online, atau tanya langsung ke SKmeat setiap minggu.
Kalau kamu tahu harga sedang naik, kamu bisa siap-siap beli lebih awal sebelum makin tinggi.
2. Beli dalam Jumlah Besar Saat Harga Turun
Kalau punya freezer, manfaatkan momen harga turun buat stok ayam frozen. Beli partai besar bisa dapat harga jauh lebih murah.
- Gunakan Kontrak atau Langganan
Supplier biasanya menawarkan harga tetap untuk pembelian jangka panjang atau volume besar. Ini bikin kamu aman dari naik-turun harga mendadak.
4. Variasikan Menu / Produk
Kalau kamu jualan ayam goreng, bisa sesekali tawarkan menu berbasis sayur atau telur. Kalau harga ayam tinggi, kamu tetap bisa jualan tanpa kehilangan pelanggan.
5. Bangun Hubungan Baik dengan Supplier
Punya supplier tetap bikin kamu lebih diutamakan saat stok menipis. Mereka juga bisa kasih peringatan kalau akan ada kenaikan harga.
Kesimpulan
Fluktuasi harga ayam adalah hal yang wajar dan dipengaruhi oleh banyak faktor: pasokan, pakan, kebijakan, hingga daya beli. Tapi bukan berarti kita nggak bisa menyiasatinya.
Dengan strategi yang tepat. Mulai dari monitoring harga, stok frozen, kontrak pasokan, hingga variasi menu, kamu bisa tetap untung dan tenang walau harga ayam naik-turun.

Tinggalkan Balasan